Selasa, 24 Januari 2012

sebuah penghianatan

kami harus bangun dari mimpi
bahwa penghianatan adalah nyata
kami dibukakan tabir langit bahwa penghianatan lama merasuk

aku terlalu muda untuk dikenalkan pada wanita wanita nista
aku terlalu lemah untuk tahu kawan kawan pembunuh

dan sungguh, aku mohonkan peradilan robbul'alamin kepada
merak yang membuat kami jatuh dan tersubgkur pada suasana sesal

mereka telah menusuk jantungku
mereka akan dibalas pasukanlangit



kepada lelaki dan wanita jalang
22 januari 2012

Selasa, 16 Agustus 2011

Kidung Merdeka


                Kidung Merdeka

Bayonet belum mampu merobek perlawanan mereka
Sparuh jiwa kobaran api
Perjalanan paragraf bisu
Yang belum juga sempurna

Mereka prajurit rembulan yang menderu
Maju dalam suasana haru
Menyatu pada ledak desing mesiu
Membara kobaran arak anggur
Pada senja nanti siap untuk gugur

Jelaga terlanjur campakan api
Api yang bercokol dalam kalbu birahi
Lengking jerit kekalahan pada semburat senja
Terlanjur gagal bersandar di pundak cakrawala

Mereka pejuang negeri
Mereka pemintal darah
Mereka pembunuh penjajah
Mereka pahlawan kami

Kami kidungkan dendang kemenangan para pejuang
Sangkur penuh karat yang terselip pada baju zirah tua
Hanya mampu kibarkan bendera setengah tiang

Sebelum senja selesai
Tangis tak boleh disengaukan

Kami telah mereka


                                                Makassar, 21 Juni 2011
                Kepada Mereka Prajurit Indoensia
Bayu Kusumajati

Sabtu, 16 Juli 2011

Mereka Terlalu Miskin


Langit batas alis mengherucut
Saksikan duka ditoreh luka atas persada gersang ditanah carut
Tercerai jauh dari akar elegi
Membelukar dalam lubuk bumi
Dibasuh darah dan nanah yang mengucur bagai putusnya nadi

Kerdipan mataku
Tepikan aroma pilu dalam rintihan
Kanak telanjang lapar terbentur sejuta nafsu
Tercampur dalam belenggu dibaur debu

Mereka ingin singkap mekar mahabbah yang merekah merona
Tepikan tualang angin
Di tepian bibir neraka ujung dunia

Mereka mengejar goresan takdir kehidupan
Mengais puing reranting sisa pesta semalam
Yang tercerai berserakan
Diantara keringat dan busuk aroma parfum

Liar dan miskin
Serupa ujung pinus tusuk bulan yang binak
Dimalam sunyi tanpa seribu bintang

Mereka termangu
Mereka terpesona
Mereka terbuai

Mereka terlalu miskin
Semiskin pedang berkarat
Yang cacat didia tempat
Terselip pada baju zirah tua

Mereka akan mati

                                                                             Bayu Kusumajati
                                                                         Semarang, 16 Juni 2011
                                                                            Selepas Gerhana

Kepadamu

           

Dengar dentum piano bernada lusuh
Coba sapih suara sucinya
Telah menggunung jalaga rindu ini
Berteman jerit lepas dalam kesunyian

Bukan sebuah keputusan sebatang pohon sungsang
Meranggas telanjang tanpa rahasia

Kematianmu terlalu membekas di suksma
Selekat desah dan nafas
Seasam keringat telapak tangan
Atau cengeng kidung kegelapan
Luruh tegas pada kehidupan

Kawanku adalah derajat pagoda
Kawanku adalah kembara angin yang tak pernah diam
Yang buyarkan kabut pilu dalam dunia
Beri pengentalan bingkai pengertian
Lewat kidung indah yang diteluhkan

Mimpi kita terlanjur melambung
Bangun istana imaji yang redup saput tatap syahdu
Seindah nada dawai violin yang terakit

Mimpi kita telah terpintal dalam ilusi
Mimpi kita telah mengalir dalam darah kehidupan
Keliaran semerbak kesturi
Tampak gemertak runcing duri

Kawanku,
Kawan mawar semerbak jelaga
Kita pasti bisa


Bayu Kusumajati  
                                                                                         Semarang, 15 Juni 2011
                                                                                                                        Sebelum Gerhana Datang

Selasa, 05 Juli 2011


                                    Kemerdekaan Milik Kami
 Bayu Kusumajati
            Dulu ketika tanah kami mulai dibumihanguskan
            Ketika kakek-kakek kamu hanya mampu mengasah ujung bambu
            Harus tercium anyir nanah dan amis darah tertumpah
            Tapi kami . .. 
            Kami hanya duduk tersedu di koling meja

Kemarin ketika bapak-bapak kami mulai berdiri
Penegasan melawan musuh sendiri
Kami harus memanggul senapan
Karena kami satunya harapan

            Semangat kami akan mengobarkan pejuang
            Bayonet kami akan merobek lambung lawan
            Tajam sangkur kami akan memotong urat nadi
            Hingga mereka semua mati
            Dan kami akan merdeka

Kami ini pecinta negeri
            Yang menebarkan rintih ngeri
Kami ini pemintal darah
            Yang menewaskan para penjajah
Kami ini pemuda bangsa
            Yang membuat merdeka

Kemerdekaan adalah sebuah angan-angan panjang





Kemerdekaan adalah lepas dari jidat-jidat penguasa
Kemerdekaan adalah kibaran merah putih
Kemerdekaan adalah milik kami

Demi Allah
Hingga nanti temeram senja pulang ke peraduannya
Akan aku genggam erat seluruh bangsa
Teruntuk negeriku, Indonesia
Pertempuaran m,alam hari
Semarang, 8 Maret 2011
ISlamic Center Manyaran
jUara I